Senin, Agustus 04, 2025

Budaya FOMO Positif atau Negatif?



FOMO: Penyakit Zaman Now yang Lebih Berbahaya dari Fanatisme


Kita hidup di era di mana kehidupan pribadi jadi tontonan, validasi jadi kewajiban, dan eksistensi diukur dari jumlah like dan view.


Dulu, fanatisme adalah membela mati-matian suatu keyakinan atau kelompok.

Sekarang? Fanatisme itu bernama FOMO (Fear of Missing Out)—takut ketinggalan tren, takut tidak dianggap eksis, takut tidak masuk dalam kerumunan digital.



---


Kenapa FOMO Lebih Berbahaya dari Fanatisme Klasik?


Karena fanatisme klasik jelas terlihat.


Tapi FOMO? Ia halus, manis, dan merusak pelan-pelan.



Hari ini, banyak orang hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk penonton.

📱 Semua aktivitas harus diunggah.

📸 Makan harus difoto.

🎥 Pacaran harus divlog.

💬 Validasi dari netizen jadi kebutuhan utama.


Ini bukan lagi hiburan. Ini zona merah.

FOMO sudah menjadi gaya hidup wajib, bukan sekadar kesenangan.



---


FOMO adalah fanatisme modern.


Bedanya, bukan lagi membela ideologi, tapi membela eksistensi palsu.


Kita rela kehilangan privasi.

Kita rela mengorbankan etika dan moralitas.

Kita rela menjadi “aktor” di panggung media sosial, demi sorakan penonton yang bahkan tidak peduli siapa kita sebenarnya.



---


Fanatisme klasik memecah belah kelompok.

FOMO menghancurkan individu dari dalam—mengikis identitas, moral, bahkan makna hidup itu sendiri.



---


Maka pertanyaannya:

👉 Apakah kamu masih punya kendali atas hidupmu, atau semua hanya demi konten?

👉 Apakah kamu masih punya momen pribadi yang hanya milikmu, atau semua harus jadi konsumsi publik?


Jika jawabannya “tidak,” maka selamat datang di dunia baru:

🌐 Fanatisme modern yang bernama FOMO.



---


Mau aku buatkan versi yang lebih panjang dan dibagi jadi beberapa slide, seperti carousel Instagram atau thread Twitter/X, biar lebih eye-catching dan punya hook di tiap bagian?




Berikut beberapa ide gambar pensil bertema FOMO yang bisa kamu buat:



---


🎨 1. Dua Dunia yang Berbeda


Kiri: Orang duduk sendiri di ruangan gelap, wajahnya sedih tapi matanya terus melihat ponsel penuh notifikasi.


Kanan: Dunia nyata di luar jendela terlihat indah (matahari, teman-teman bermain, kehidupan nyata) tapi diabaikan.




---


🎨 2. Orang dengan Tali Marionette


Sosok manusia dipegang seperti boneka oleh tangan raksasa berbentuk ponsel.


Tali-tali mengikatnya ke fitur media sosial (ikon like, share, view).




---


🎨 3. Kepala Berbentuk Layar HP


Seseorang menggambar dirinya sendiri, tapi wajahnya bukan lagi manusia—melainkan layar ponsel penuh notifikasi.


Makna: identitasnya hilang, digantikan validasi online.




---


🎨 4. Orang dengan Bayangan yang Berbeda


Sosok terlihat bahagia di depan kamera, tetapi bayangannya di tanah terlihat sedih dan lelah.


Ini menunjukkan kehidupan palsu demi eksistensi.




---


🎨 5. Tikus di Dalam Roda Mainan (Hamster Wheel)


Tikus itu digambar sebagai manusia dengan kepala ponsel.


Ia terus berlari mengejar ikon like, love, dan view—tanpa sadar tidak akan pernah selesai.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Budaya FOMO Positif atau Negatif?

FOMO: Penyakit Zaman Now yang Lebih Berbahaya dari Fanatisme Kita hidup di era di mana kehidupan pribadi jadi tontonan, validasi...